SBD, IDEMANews-Sejumah lapak dan kios di pasar Omba Komi yang dibangun secara mandiri oleh pedagang terlalu kumuh. Bangunan yang ada terkesan sebagai bangunan liar yang rawan terbakar, tidak nyaman dan tidak sedap dipandang. air mengalir tanpa ada saluran sehingga sampah berserahkan dimana-mana. Senin, 22 Desember 2025 IDEMA bertandang ke Pasar Omba Komi. Lapak yang disediakan bagi pedagang atau penjual ikan terlihat lengang dan sepi meskipun baru dikunjungi bupati dan wakil bupati Kabupaten SBD pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Pasar Omba Komi yang berada di Desa Pogotena adalah pasar ibukota Kabupaten SBD. Sebelumnya pasar tradisional ini berada di Pasar Radamata. Namun seiring perkembangan kota dan kebutuhan, lokasi pasar dipindahkan di Omba Komi karena lokasi yang lebih representative. Pada awal pemindahannya, ada dinamika yang berkembang karena dinilai oleh pedagang tidak berada di tengah kota. Karena pasti membutuhkan waktu dan sosialisasi sehingga omset penjualan tidak menurun karena sepi pembeli. Jarak yang lebih jauh pasti membutuhkan tambahan biaya transportasi karena rata-rata pedagang tinggal di sekitar Radamata.
Setelah 10 tahun lebih beroperasi di Omba Komi, pasar dan terminal angkutan umum yang dulu sepi, berangsur-angsur ramai kembali. HIngga pada masa pemerintahan Bupati Kabupaten SBD yang baru, Ibu Ratu Wulla melakukan sejumlah gebrakan dalam rangka menata pasar induk ini agar nyaman bagi penjual dan pembeli. Infrastuktur utama dan penunjang terus dibangun dan dibenahi sehingga lambat laun tampak lebih baik dari sebelumnya. Akses jalan sudah diaspal, penerangan listrik sudah menjangkau semua, penyediaan air bersih dengan sumur bor dan fasilitas umum seperti wc kamar mandi disediakan. Termasuk penyediaan tempat pembuangan sampah mobile (bergerak) di tengah pasar. Dan pada awal pemerintahan Bupati Kabupaten SBD, Ratu Wulla, salah satu objek utama public yang dikunjungi bersama wakil bupati adalah Pasar Oba Komi. Gerakan dan komitmen yang diagendakan adalah menjaga kebersihan, meningkatkan fasilitas pasar dan penataan lain yang mendukung peningkatan penjualan para pedagang. Bupati dan wakil bupati SBD turun langsung untuk membersihkan pasar.

Blok-blok utama bagi pedagang sudah diatur dan ditata sedemikian rupa seperti penyediaan fasilitas kios-kios utama meskipun jumlah masih terbatas dan tentu harga sewa yang tidak terjangkau bagi pedagang kecil. Karena kondisi tersebut, salah satu pedagang yang ditemui mengungkapkan, teman-teman pedagang berinisiatif membuat bale-bale sendiri lalu selanjutnya membangun pondok seadanya mengingat pada awal pindah keamanan belum terjamin dan sekaligus kami bisa irit biaya. “Kalau harus tiap saat bolak-balik rumah, tidak ada untung. Karena kita cuma jual sayur, pisang dan kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.
Sedangkan salah satu penjual ikan segar mengatakan istrinya berjualan di pasar sedangkan dia memilih berjualan keliling dengan sepeda motor. “Berat kaka karena saat ini syukur kalau sudah kembali modal. Satu box ikan kita sudah beli dengan harga satu juta lebih. Saya pilih ikan kecil saja. Belum kita sewa orang turunkan dari perahu, sewa ojek antar ke rumah dan harus beli es batu untuk awetkan. Nah, kalau tidak laku biayanya besar karena kita harus beli es batu dan antar bolak balik ke pasar. Kita juga tidak bermaksud melawan aturan atau melawan pemerintah. Kita juga capek tiap saat harus hadapi satpol PP dan terpaksa tutup jualan,” tambah pria berperawan kecil ini.

Sejauh pantauan IDEMA, Pasar Omba Komi membutuhkan sentuhan khusus dalam perencanaan lebih lanjut. Papan penunjuk arah jalan dan pasar tidak terlihat jelas. Posisi pasar hewan besar seperti kerbau, sapi dan kambing menambah kesan jorok mesikipun strategis dan berada di bawah pohon-pohon jambu sehingga sejuk. Informasi yang dihimpun IDEMA, lokasi tersebut bukan milik pemerintah tetapi perorangan yang disewa pedagang. Lampu penerangan dari arah jalan besar menuju pasar belum terpasang. Lokasi parkir kendaraan belum ada sehingga jalan masuk pasar yang sempit menimbulkan kemacetan. Karena belum ada parikiran dan petugas parkir, kendaraan pengunjung pasar tidak aman dari pencurian kendaraan bermotor. Hal ini menambah kondisi pasar dan terminal yang terkesan kumuh dan tak tertata.
Namun kondisi ini tidak menyurutkan Ibu Bupati SBD, Ratu Wulla untuk terus menata pasar tersebut. Terhitung sejak dilantik, Ratu Wulla sudah dua kali menginjakan kaki di pasar. “Pemerintah Kabupaten SBD tetap memberikan perhatian khusus dalam penataan lokasi pasar sebagai bagian dari program prioritas. Salah satu fasilitas public yang diprioritaskan adalah Pasar Omba Komi sehingga bapa mama yang berjualan dan pembeli nyaman. Dengan demikian akan meningkatkan pendapatan pedagang,” demikian Ibu Bupati SBD, Ratu Ngadu B. Wulla, Sabtu, 20 Desember 2025 ketika meninjau langsung blok penjualan ikan segar dan daging. Bangunan tersebut bisa menampung lebih dari 60 pedagang ikan segar. Bangunan sersebut dilengkapi dengan keran air masing-masing lapak. Disertai dengan got saluran air limbah. Kunjungan tersebut, bupati didampingi Wakil Bupati, Dominikus R. Kaka.

Kepala Desa Pogotena yang dijumpai, karena lokasi pasar berada di Desa Pogotena mengapresiasi koodinasi ibu bupati dan siap untuk selalu bekerja sama dalam mengatasi masalah sampah dan keamanan pada malam hari. Polres SBD juga secara rutin melakukan patroli. Sedangkan Asgustinus Dapa, Kepala Dinas Disperindag SBD menyampaikan bahwa bupati secara khusus memberikan perhatian pada Pasar Omba Komi. Karena kondisi anggaran sehingga bertahap dalam melengkapi fasilitas pasar, uangkapnya serius.*EE












