Seri Pasola_Bagian Pertama: Kesakralan Pasola Kian Tergerus Zaman

Ilustrasi: Atraksi Pasola (Foto: idntimes.com)

SBD,IDEMAnews-Tulisan ini adalah bagian pertama dari rangkaian ulasan tentang pasola dari berbagai sisi pandangan. Ulasan akan diturunkan secara berseri termasuk sumbangan pemikiran dari penulis luar berupa artikel.

 Beberapa waktu silam seorang pemimpin agama viral di kalangan orang Sumba. Ia menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menonton pasola apalagi ambil bagian karena tradisi pasola mengajarkan dan menyuguhkan kekerasan, kebengisan dan kebrutalan.  Orang menggunakan lembing untuk saling melempar dan berusaha agar lawan terkena bahkan karenanya terluka, cedera dan terbebani oleh rasa malu. Kehormatannya sebagai pria perkasa direnggut dan pada gilirannya hanya menumbuhkan dendam kesumat. Kenyataan tersebut dianggap sangat kontras dengan ajaran iman Kristen yang menekankan cinta kasih. 

Pernyataan yang diunggah di media social tersebut mendapat respon yang beragam dari nitizen dan masyarakat lokal Sumba. Terjadi pro dan kontra. Ada yang setuju dan tidak setuju dengan alasan masing-masing. Namun yang jelas hingga hari ini tidak pernah ada pernyataan resmi oleh  otoritas gereja.

Lalu bagaimana sebenarnya sejarah, konsep dan filosofi yang diyakini sebagai dasar tradisi pasola tetap hidup dan bertahan hingga sekarang(?) Gidion Katupu, P.Sc pensiunan ASN tahun 2010, salah satu tokoh Kampung Tosi di Kodi bersedia berbagi cerita dengan IDEMAnews di rumah kediamannya (Minggu/25/01/2026). “Pasola sebenarnya suatu atraksi yang diekspresikan untuk mengungkapkan kegembiraan, sukacita dan rasa syukur yang diuntai dalam harapan dan doa. Bersuka cita, bergembira karena panenan berlimpah yang diperoleh setiap keluarga sebagai masyarakat agraris. Sekaligus sebagai ungkapan terimakasih dan rasa syukur karena alam memberikan kesejahteraan kepada setiap keluarga. Sehingga setiap tahun pasola dilaksanakan untuk maksud tersebut. Sambil tetap menguntai doa-doa agar panenan berikutnya terhindar dari segala bencana, hama agar panenan berlimpah dan masyarakat diberikan kesejahteraan,” ungkapnya serius.

Gidion Katupu, salah satu pemerhati budaya dan pelaku pasola pada era kejayaannya pada tahun 60-an hingga awal tahun 80-an, menambahkan bahwa pasola adalah salah satu momentum seorang pria diingatkan pentingnya jiwa ksatria, sportifitas, bertanggung jawab dan pola hidup kebersamaan (komunal-Red). Jadi ada semangat bekerja sama dan bergotong royong. Jadi pasola bukan sekedar bergembira atau bersenang-senang tetapi juga didahului oleh kegiatan spiritual yang merupakan ritusnya. Hal ini bisa dilihat ada rato nyale yang bertugas mengurusi seluk beluk pelaksanaan pasola entah waktu, tempat dan tata cara, aturan.

Menurut cerita turun-temurun, kisah Pak Gidion, pasola pertama kali dilaksanakan di Kampung Tosi. Waktu itu Kampung Tosi masih berada di antara lereng bukit yang kini dikenal sebagai hutan Tosi. Hutan itu berada diantara wilayah Desa Noha, Waicaru dan Desa Wailabubur.Rato Nyale pertama bernama Rato Pokul dari Tosi. Saat itu pasola menggunakan gumpalan nasi untuk melempar. Orang naik kuda dan ada seutas tali sebagai batas kedua belah pihak boleh memutar kudanya. Sehingga tidak boleh pihak lawan masuk sampai ke area lawan. Batas terakhir adalah titik tengah dari lapangan. Jadi saat itu memang hanya butiran nasi yang dipadatkan dan berbetuk bola sehingga tidak menyikiti yang terkena lemparan.

Lalu dalam perjalanan waktu Kampung Tosi berpindah ke tepi laut. “Kampungnya tidak persis di lokasi sekarang. Masih menjorok ke arah laut (muara Tosi-Kapabala). Namun karena saran dari pihak paman, Rato Teba dari Kampung Mete akhirnya posisi kampong digeser ke posisi perkampungan Tosi saat ini. Dan selanjutnya berdiri jua sebuah kampong yakni Bukambani. Kedua kampong ini dibangun oleh dua bersaudara. Sampai saat ini Tosi masih diyakini sebagai kampong yang mempunyai otoritas membagi tanah ulayat selain tempat kedudukan Rato Nyale. Seiring perpindahan perkampungan, gumpalan nasi diganti dengan kayu karingga sebagai alat untuk melempar. Kayu karingga biasanya tumbuh di pinggir sungai. Kayu lurus dan ringan dengan tekstur  fleksibel tidak mudah patah seperti rotan,” jelasnya.

Senada dengan itu, Drs. David Ra Mone salah satu tokoh kampong Mete mengungkapkan lebih jauh bahwa cikal bakal kampong Bukambani, Tosi dan Ratenggaro adalah dari Kampung Mete. “Sampai saat ini masih ada batu sebagai penanda kampong. Konon batu (watu cebe-bahasa Kodi) tersebut tidak bisa diangkat atau dipindahkan begitu saja meskipun dengan kekuatan dari beberapa orang mencoba mengangkat atau memindahkan. Sehingga dalam bahasa syair adat selalu disebut: ceba kedepa prono rai pung tana (Rato Cebe /kepala suku) sebagai penjaga kampong adat). Batu tersebut dipercaya sebagai tempat Raja Cebe/Hebe  biasa duduk berjemur menikmati mentari pagi”.

Dari kisah leluhur secara turun-temurun, Lanjut David, Rato Cebe memberikan hamparan wilayah kepada keponakkannya Pokul yang kini dikenal sebagai Kampung Tosi. Sedangkan adik Pokul yakni Mangil diberikan lahan untuk mendirikan perkampungan Bukambani. Selanjutnya dalam tananan adat, masing-masing menjadi rato pertama untuk kedua kampong itu. Pokul menjadi Rato Kampung Tosi dan Mangil menjadi Rato Kampung Bukambani. Dan dari Tosi lahirlah Raja Dero yang bertahta dari perkawinan Rato Loghe dengan Ratu Konda. Sehingga kuda pasola merupakan symbol kedudukan sebagai rato nyale. Dan dalam konteks ini Kampung Mete menjadi rato inbiri nyale (kampong penasehat atau dalam konteks kenegaraan Rato Kampung Mete sebagai legislative (MPR/DPR).

Kayu karingga yang digunakan kurang lebih panjang dua meter atau lebih dengan diberikan pola yang unik sebagai symbol nasi gumpalan. Kayu pilihan tersebut, selanjutnya ada bagian yang dikupas kulitnya dan disisakan secara selang-seling. Selanjutnya bagian yang telah dikupas kulitnya dibakar tipis-tipis (nonola-Red, dalam bahasa Kodi/Waijewa) sehingga menghasilkan warna hitam. Selanjutnya bagian yang sebelumnya belum dikupas, kulit kayu dilepas secara hati-hati sehingga menghasilkan kayu pasola dengan corak hitam putih yang unik dan menawan. Bagian yang putih itulah sebagai bagian simbolik dari gumpalan nasi yang digunakan pada masa awal-awal pasola.

Berkenaan dengan latihan pasola di SDM Kori yang sudah dilarang oleh Rato Nyale tetapi masih tetap berlanjut? Gidion Katupu merasa itu sebagai penghinaan kepada otoritas Rato Nyale. “Sudah ditegur dan diminta dihentikan, semua pihak harus patuh. Tetapi tetap membangkang dan dilanjutkan, artinya ada pembangkangan dan pergeseran nilai. Lokasi itu juga tidak pantas karena lokasi sekolah apalagi menggunakan lembing kayu benaran. Dulu memang ada latihan tetapi sekedar latihan putar kuda. Bukan setiap hari pasar janjian diadakan. Bila ada apa-apa siapa yang bertanggung jawab? Karena kegiatan latihan yang sudah menggunakan kayu, sangat beresiko. Secara pribadi saya sangat prihatin. Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Nah, kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan bersama, kita semua bertanggung jawab moral. Karena dalam pasola beberaoa tahun terakhir ini, orang turun pasola sudah bawa botol aqua (peci untuk kasih panas badan). Kan sudah tidak sesuai dengan kebiasaan to. Jadi harus dijaga bersama karena tradisi kita,” ungkapnya kecewa.

Namun sayang seribu sayang, saat ini kayu karingga sama sekali tidak digunakan lagi. Orang bebas mengggunakan berbagai kayu pasola. Entah kayu jati, kopi, mahoni, lamtoro atau jenis kayu lain mempunyai bobot kayu padat. Sedangkan saat ini kayu karingga juga sudah jarang ditemukan.*Yos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *