Sumba Barat Daya, IDEMAnews-Ditemui di rumahnya Jl. Walet Ledegiring, Desa Radamata (Selasa,17 Maret 2026), korban penganiyaan, pengeroyokan dan penyerangan oleh sekelompok orang tampak shok, pucat pasih ketika dikonfirmasi kembali tentang kronologis kejadian yang menimpa diri mereka pada Jumat, 13 Maret 2026. “Saya shok berat atas penyerangan dan penganiayaan yang membabi buta. Saya pasrah saja ketika ditendang, dipukul, bahkan dipukul dengan kayu kudung. Kami sudah melapor ke Polres SBD, divisum pada hari Jumat itu juga dan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dilengkapi pada hari Minggu, 15 Maret 2026. Karena itu, kami minta polisi mengusut tuntas, memberi rasa keadilan bagi kami,” tutur Yusuf salah satu korban terbatah-batah dalam suara lirih.
Awal kronologis peristiwa sesuai kejadian yang dialami dan telah dilaporkan secara resmi di Polres SBD. Pada hari Jumat, 13 Maret 2026 kurang lebih pukul 13.00 WITA, Yusuf sudah berada di atas sepeda motor di depan rumahnya sendiri di Jalan Walet. Ia bergegas menuju Bandara Lede Kalumbang sebagai pekerja wiraswasta di sana. “Tiba-tiba saat saya sedang pake helm, ada motor berhenti depan rumah dan menghalangi jalan sehingga saya mengakat muka untuk melihat siapa yang datang dengan keperluan apa. Ternyata yang turun adalah TTN bersama saudaranya dua orang dengan menggunakan dua sepeda motor. Lalu saya dipukul oleh TTN di batang leher. Saya kaget dan spontan bertanya kenapa? Lalu dijawab oleh TTN dengan nada begis, tadi kenapa kau ribut saat saya kotbah di Masjid?” jelasnya.
Lalu bersamaan itu saya dipukul dan ditendang oleh kedua adik kandungnya yakni Andy dan Umay. Karena saya sedang berpuasa (ibadah puasa), saya berusaha menghindar sambil berteriak minta tolong. Saya dipukul ditendang dengan membabi buta dan saya hanya berusaha melindungi kepala dengan mengangkat tangan. Saya berlari ke arah jalan mencari perlindungan dan dari jalan yang berjarak kurang lebih 15 meter kembali lagi kke arah rumah. Sampai dua kali dengan pemukulan dengan tangan kosong dan menggunakan kayu kudung. Saya berteriak sekuat tenaga sehingga tetangga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Pelaku Ttn masih mengenakan jubah ketika datang bersama adiknya melakukan penyerangan dan pengeroyokan. Segala caci maki dan kata-kata kotor yang tidak layak diungkapkan, keluar dan mengalir begitu saja.
Lanjutnya, orang kampung sekitar berusaha menenangkan tetapi sama sekali tidak digubris dan bahkan mengancam agar orang yang bukan Islam, jangan ikut campur. Tidak lama berselang datanglah Pak Jamaludin yang bersebelahan rumah karena mendengar teriakan minta tolong dan kegaduhan di luar. Karena beliau datang dan menegur:”hei Tatan kenapa kau pukul Bapa Ulin. Ada apa? Lalu mereka berbalik menghadapi Pak Jamaludin sehingga saya merontak dan lari masuk dalam rumah dengan mengunci pintu dari dalam. Selanjutnya saya sambil meringis menahan sakit berusaha merekam kejadian di luar. Saat itu saya hampir semaput dan rasa mual mau muntah”.
Salah satu saksi, Mama Rian, Ibu Fatimah yang ditemui juga mengungkapkan kronologis peristiwa seperti itu. “Bahkan saya juga dimaki-maki supaya jangan ikut campur. Istri dari Jamaludin yang juga datang dan meminta agar dihentikan tindakan brutal itu, justru dimaki oleh Ttn. Ditanya apakah Islam atau tidak. Kalau bukan Islam jangan ikut campur. Lalu dia jawab saya Islam. Tetapi ditimpali kembali, lalu kau mau apa? Saya lihat rasa ngeri sekali karena terjadi pada saat bulan puasa dan yang melakukan tindakan pemukulan keji adalah seorang yang terhormat; yang sebelum kejadian di sini (jl. Walet-Red), ketika Jumatan di Masjid Al Falah Weetobula SBD adalah Kotib. Mama sangat bersedia jika dipanggil polisi sebagai saksi. Supaya tidak ada bohong-bohong. Kasihan korban,” unhkapnya sedih.
Sedangkan korban pengeroyokan dan penyerangan lain, Jamaludin Efendi Wungo yang dijumpai jua menjelaskan kronologis yang dialaminya sendiri. “Saya baru datang sesaat setelah terdengar teriakan minta tolong dari sebelah rumah. “ Karena baru pulang dari Jumatan, saya masuk kamar istirahat. Ketika ada teriakan minta tolong, saya spontan bangun dan keluar dengan membawa sebilah kayu yang dicat. Dari jauh tampak seperti samurai. Pada saat mengetahui kejadian dan orang yang dianiaya dan menganiaya, spontan saya berteriak: hei hei Tatan kenapa kau pukul Bapa Ulin. Ada apa? Langsung mereka balas, jadi kau mau tambah (ikut campur-Red). Kenapa memang dengan diiringi kata-kata kasar caci maki”.
Saya lalu disergap oleh tiga orang, Tatan menangkap saya dari belakang dan mengunci sehingga sempat terjatuh lalu ketika berdiri, sudah dipiting (semacam dikunci kedua tangan sehingga tidak bisa bergerak) lalu adik kakak dari Tatan yakni Andy dan Umay bebas memukul dan menyerang saya. Saya hanya bertahan berusaha melindungi diri dengan memutar kayu yang saya bawa sehingga wajah agak luput dari pukulan. Lalu kayu yang menyerupai samurai itu, mereka usaha rampas dari tangan saya dan saya pertahankan. Saat itu kaki saya dipukul dan mereka bilang kenapa kau bawa parang?
Kata makian, kata-kata berbau rasis dan ungkapan lain yang tidak mencerminkan orang berpendidikan tinggi, sebagai ustad juga dosen dan kepala sekolah begitu saja diumbar di tengah orang banyak. Dengan kejadian itu, saya menilai sangat memalukan. Kita mestinya sebagai panutan yang berperilaku baik. Didorong oleh tindakan brutal mereka itu, sebagai korban kami melapor di POLRES SBD dan sudah ditindak lanjuti dengan visum dan BAP.
“Dan kami harap kepolisian professional dan pers membantu mengawal.Tindakan penganiayaan, penyerangan dan pengeroyokan terhadap warga merupakan tindakan criminal. Semestinya, jika ada masalah, dia bisa datang bertanya baik-baik. Dan saya yakin, Yusuf sama sekali tidak membuat keributan di Masjid Al Falah di Desa Langgalero. Justru Yusuf sebagai korban penyerangan dan pengeroyokan yang menegur anak-anak yang rebut di luat masjid agar diam. Karena orang ada sembayang dan kotbah. Kebetulan dia duduk di emper masjid karena di dalam sudah penuh. Tindakan brutal seperti ini sangat disesalkan apalagi terjadi pada bulan puasa dan pada saat beliau menjadi kotib di masjid,” ungkap Jamaludin sambil geleng-geleng kepala heran.*EE












