Abdullah M. Idrus: “Pemerintah, Mohon Perbaiki Jalan Paris Pasar Inpres Lama”

SBD, IDEMAnews-Abdullah M. Idrus salah satu tokoh muda SBD yang dipercaya sebagai Ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) SBD mengungkapkan bahwa penataan kota yang merupakan kawasan public, sangat tepat. “Termasuk penataan jalan Paris (Pasar Inpres) Lama. Kawasan ini sebenarnya dulu adalah ikon dan pusat ekonomi warga sejak dulu. Saat ini butuh sentuhan sedikit saja berupa jalan direhap, dipasang lampu jalan dan drainase. Saya yakin akan menghidupkan kegairahan warga untuk menata ekonomi keluarga,” ungkapnya Senin, 16 Maret 2026 di rumahnya di Radamata.

 Dengan gaya khasnya yang santai tapi santun, ditengah suasana menjalankan ibadah puasa, Direktur Titipan Ilahi ini mengungkapkan bahwa ia lahir dan besar di kawasan jalan Pasar Inpres Lama. Dulunya menjadi pusat ekonomi karena ada pasar ketika SBD masih menjadi bagian dari Kabupaten Sumba Barat. Jalan itu sangat strategis karena berada di tengah kota. Menjadi Jalan alternative dan jalan yang menghubungkan masyarakat dengan sejumlah fasilitas umum. Ada Masjid Agung Al Falah , Kantor Kelurahan Langgalero. Kawasan padat penduduk. Biasanya jalan tersebut dilintasi pejabat nasional ataupun propinsi yang berkunjung ke SBD dan kebetulan harus menunaikan ibadah di Masjid Al Falah tersebut.

“Jika ditata sedemikian rupa, jalan diaspal mulus, lampu-lampu jalan dipasang dan drainase sekaligus dengan pembangunan jalan, niscaya kawasan itu menjadi magnet ekonomi. Masyarkat sangat merindukan itu. Saya selaku warga sangat bersedia bersama warga dan umat untuk menyampaikan permohonan tersebut kepada ibu Bupati SBD, Ibu Ratu Wula. Alun-alun sudah dibangun ditata sedemikian rupa, TCC (Tambolaka culiner Center) yang berlokasi di pasar lama Radamata. Nah, di Weetobula adalah wajar jika diupgade pasar inpres lama menjadi suatu kawasan yang indah, pusat ekonomi kreatif keluarga. Dulunya disana ada tukang tambal sepatu, penjahit, dan penjual jasa lain yang selalu dibutuhkan warga. Perlu dipikirkan bersama karena bisa menjadi kawasan nostalgia. Dulu jalan tersebut menjadi penanda batas kota Waitabula dari arah Katedral Weetobula,“ ungkapnya mengenang.

Tambahnya, karena kota Tambolaka dan Waitabula adalah wajah SBD. Dengan penampilan yang menawan dari Bandara Lede Kalumbang atau Pelabuhan Waikelo, pusat kota seperti alun-alun kota, Tambolaka Culiner Center dan pusat-pusat layanan public lain, akan menarik wisatawan. Meningkatkan produktifitas masyarakat.  Sejak dulu sampai sekarang kawasan tersebut seolah terlupakan. Padahal jalur itu menghubungkan dengan kantor Kecamatan Kota Tambolaka yang berada di Kataparoro, dengan sejumah sekolah favorit di Bukit Sunyi. Satu kawasan yang mencerminkan toleransi yang tulus karena jalur itu menjadi jalur semua orang entah waktu pergi atau pulang gereja atau orang Islam yang ke Masjid. Ada keindahan hakiki yang jika ditata secara seksama, akan mempresentasikan SBD yang ramah dan maringana, ungkapnya mengutip salam SBD.

Lanjutnya, jika ditata sedemikian rupa sehingga jalan Paris yang tembus ke kantor Kecamatan Kota Tambolaka, akan memicu titik-titik usaha yang berkembang. Jalan yang menuju kantor kecamatan Kota Tambolaka sudah baik hanya belum dibangun drainase dan penerangan jalan yang memadai. Sebenarnya bisa dipikirkan sehingga dibangun jalan yang menghubungkan jalan Paris dengan jalan Bulgur depan rumah sakit. Dulunya ada jalan tetapi itu lewati kintal tanah orang. Jalan ini sangat strategis karena di depan Toko Bumi Indah ada jalan yang tembus ke Kampung Belakang Kelurahan Weetobula. Di sana jalan sudah bagus dan ada titik-titik usaha yang menjadi motor untuk menggerakan ekonomi warga.

“Melalui beberapa diskusi kecil bersama warga dan umat, hal tersebut selalu diutarakan sehingga saya tergerak untuk mengusulkan kepada Ibu Bupati SBD. Sebenarnya selama ini kita berharap ada tokoh yang bisa memperjuangkan aspirasi ini. Tetapi sampai detik ini, tidak ada,“ demikian pengusaha low profile ini.

Jika musim hujan seperti ini, jalan tergenang air dan menyebabkan jalan yang dulu sudah diaspal menjadi rusak atau retak-retak. Pada musim kemarau menjadi kawasan debu dan sampah yang berserahkan. Sehingga jika sudah dibangun, sekaligus ada tempat pembuangan sampah. Tentu terobosan ini meningkatkan kualitas hidup warga dan kesehatan. Tidak menjadi sarang nyamuk demam berdarah karena kawasan tersebut kumuh. Dan yang lebih penting pengendara motor atau kendaraan dan pejalan kaki nyaman melintasi jalan tersebut. Selain itu, ada beberapa rumah warga yang tidak layak huni. Mereka  sangat membutuhkan sentuhan. “Sebagai bagian dari masyarakat SBD dan ketua DKM SBD, saya berharap kita bersama-sama membangun SBD. Kita menyumbangkan pikiran positif. Dan tentu dalam masa bulan puasa menjadi kesempatan untuk menjalin keharmonisan, memupuk dan menjaga kerukunan di antar umat maupun antar umat beriman. Dalam suasana Idul Fitri sebagai bulan yang penuh barokah, atas nama pribadi dan keluarga, sekaligus selaku Ketua DKM SBD saya menyampaikan mohon maaf lahir dan bathin, minal aidin wal-faizin” pungkasnya menutup perbincangan dengan IDEMAnews*EE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *