SBD, IDEMAnews–Dijumpai di lokasi SPPG yang berada di Tambolaka (Sabtu,28 Maret 2026), pria low profile ini sedang sibuk mengawasi aktifitas karyawan. Dalam suasana santai Adam Mone menjelaskan bahwa kelola SPPG tidak hanya tentang bisnis. “Lebih dari itu. Saya merasa ini sebagai keterpanggilan. Keterpanggilan kita untuk mendedikasikan diri agar anak-anak didik mendapat pelayanan makanan bergizi. Dengan makanan yang sehat, pertumbuhan anak baik dan mendorong anak-anak belajar. Melalui SPPG yang dikelola, saya berusaha memberikan sumbangsih meskipun kecil. Bekerja nyata untuk Sumba khusus di SBD. Bagi anak-anak kita,” ungkap pemilik Yayasan Tana Manda Sumba pengelola SPPG Langgalero.
Jika kita hanya berorientasi bisnis atau keuntungan, cenderung kita mengabaikan peluang berkat yang bisa dibagikan bersama bagi banyak pihak terutama yang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya. Contoh perekrutan karyawan dari semua kalangan tua, muda, dari beragam pendidikan bahkan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi asalkan sehat, mempunyai keterampilan dan memahami standar kerja yang menuntut pola bersih hiegenis. Kita memberdayakan dan mempekerjakan warga masyarakat sekitar. “Dengan demikian ada peningkatan ekonomi keluarga. Ada jaminan BPJS ketenagakerjaan. Dan tentu saja upah yang layak sesuai standar yang diatur”.
Tambah Adam Mone, belum lama ini dia bersama Kadis Pertanian SBD, Frin Tuka melakukan sosialisasi kepada beberapa kelompok tani. Menyampaikan peluang bisnis kerja sama. Menjelaskan kepada mereka tanaman sayur yang dibutuhkan seperti kol, buncis, kacang panjang, wortel, labu jepang. Kita sampaikan standar yang dibutuhkan. Memang yang masih sulit bagi kami adalah wortel. Wortel lokal yang di tanam di Sumba cenderung berserat banyak sehingga tidak empuk sehingga untuk kebutuhan terpaksa sampai saat ini belum menggunakan hasil dari lokal. Sedangkan tanaman sayur lain sepenuhnya dipakai dari sini. Ini tantangan bersama karena SPPG yang ada baru beberapa saja dari 50 -60 buah SPPG untuk menunjang pelayanan MBG di Kabupaten Sumba Barat Daya bagi anak sekolah. “Sebagai putra Sumba, saya terpanggil untuk melakukan sosialisasi kepada kelompok tani atau perorangan. Mari kita tangkap peluang untuk mensuplai kebutuhan sayur mayur, bumbu, telur, daging. Dan tidak menutup kemungkinan untuk kerjasama lebih intensif. Karena ada permintaan untuk menyediakan bibit dan lain-lain. Saya yakin ini akan menumbuhkan ekonomi keluarga dan masyarakat yang mandiri,” ungkapnya yakin.
Kebutuhan telur dan daging ayam juga sangat tinggi. Saya juga sudah mensosialisasikan dan menggunakan dari usaha lokal yang berada di SBD. Hanya perlu dipahami bersama misalnya daging ayam. “Kami tidak membeli ayam hidup tetapi daging ayam. Kami menerima sudah dalam bentuk daging ayam yang terpotong. Daging juga harus dalam keadaan fresh dan jika tidak ada pendingin kami pun membantu, bisa di tempat kami. Karena itu standar yang harus. Kesulitan yang masih kendala adalah kami membeli dalam hitungan kilogram bukan per ekor. Tetapi sejauh ini sudah ada beberapa peternak yang bekerja sama seperti Pak Aster Blli Bora, No Wodalado”.

Gambar: Menu Program Makanan Bergizi Gratis SPPG Langgalero
Hingga saat tulisan ini diturunkan, SPPG yang beroperasi di SBD baru sekitar 7 buah yang berada di Palla (Wewewa Utara), Wewewa Tengah, Ramadana (Kecamatan Loura), Waikelo (Radamata), Langgalero Kecamatan Kota Tambolaka, dan Weelonda (Kota). Satu SPPG hanya bisa melayani 2.500-3000 porsi.
Lalu mengapa SPPG justru banyak berada di wilayah yang relative siswanya berada di kota atau mampu? Bukan bagi siswa-siswi yang berada di pelosok yang mungkin tidak ada uang saku bahkan tempat jajan yang layak? Menjawab pertanyaan ini, Adam Mone tampak menarik napas dalam. “Idealnya begitu. Tetapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya memang berada di tempat strategis dan justru melayani sekolah yang berada di tengah kota. Ini harus menjadi PR bersama. Dalam waktu dekat di sejumlah titik, seperti Kodi, Kodi Bangedo, Balaghar, Wewewa Barat dan Selatan segera beroperasi. Apalagi Ibu Bupati SBD, Ibu Ratu sangat mendukung dan terpanggil untuk melayani anak sekolah dan mensukseskan program nasional. Saya sendiri akan berkonsentrasi untuk wilayah Kodi. Meskipun dari sisi biaya dan SDM menjadi tantangan besar tetapi sekali lagi, itulah panggilan hidup. Keterpanggilan agar hidup kita berarti. Bukan sekedar memperoleh untung tetapi ada nilai yang lebih dari sekedar mengejar kesuksesan materi, ungkapnya tersenyum.
Bagaimana hadapi kendala seperti keracunan? Kami pernah terjadi. Anak-anak makan hari ini dan baru terasa esok hari. Justru yang mengalami gejala itu anak SMA setingkat tetapi anak-ana SD sampai SMP yang dilayani pada hari itu, aman-aman saja. Jadi kita hadapi dengan kepala dingin dan segera mengatasi dengan membantu antar ke rumah sakit dan menanggung biaya. Tentang sorotan dari berbagai pihak termasuk netizen yang nyinyir tentang SPPG, MBG sebagai ladang bisnis kroni dan monopoli? “Pengelolaan terbuka. Siapapun bisa. Tinggal akses bahkan secara online di portal BGN. Sistem pembayaran pun dengan virtual account sehingga tidak ada kita langsung terima uang tunai. Jika ada masukan, hal itu wajar dan patut kita apresiasi sambil meluruskan beberapa opini yang menyesatkan masyarakat,” urainya.*EE












