SBD,IDEMAnews-Semestinya Pantai Mananga Aba adalah salah satu destinasi pantai unggulan Kabupaten SBD. Namun Pantai yang diubah namanya menjadi Pantai Kita, bertahun-tahun seolah terlupakan dan terpinggirkan. Tak ada denyut pariwisata atau minimal sentuhan fisik yang mencolok. Seandainya dikelola dengan baik, pasti menjadi destinasi tujuan wisata lokal maupun mancanegara. Mungkin saja bagi PEMDA atau penggiat wisata, Pantai Kita tak bernilai. Tetapi tidak untuk Ibu Marieti Wala, A.Md. Di sana ada keindahan dan cinta yang terpatri abadi.

Di tengah kesibukannya sebagai bendahara Desa Kalena Wanno, Kecamatan Kota Tambolaka, dia bersedia berbincang hangat dengan IDEMA tentang Mananga Aba.”Mengawali tahun baru 2026 kami sekeluarga bersama keluarga besar mendadak ingin berekreasi di pantai. Awalnya mau ke Kawona, ada yang memilih ke Pantai Oro tapi pada akhirnya semua lebih sepakat ke Pantai Mananga Aba. Lalu semuanya bergerak menyusuri jalan menuju pantai dalam sunyi. Tetapi entah mengapa ada sesuatu yang terasa, ingin diungkapan. Tetapi sama sekali kabur. Dan pada saat menjejakan kaki di pasir putih Mananga Aba, samar-samar teringat Mendiang Suami, Alm. Fransiskus Bulu Lele yang pernah membentuk kelompok Mananga Aba. Salah satu aktifitas mereka adalah menanami muara Mananga Aba dengan tanaman mangrove (bakau),” ungkapnya mengenang.

Aktivitas itu dilaksanakan oleh Pakta Sumba yakni Yayasan Pengembangan Kemitraan Terpadu pada tahun 2002. “Saat itu sebagai direktur yayasan, jika saya tidak salah ingat, kelompok yang di Mananga Aba menanam ratusan pohon bakau. Fokus perhatiannya adalah konservasi lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat dengan penguatan kapasitas dan advokasi. Saat itu bekerjama dengan Pakta Jakarta, PEMDA Sumba Barat, Access, Tabloid SABANA dan Burung Indonesia. Program yang dilaksanakan antara lain di Kampung Kapaka Tolu, Desa Bukambero dengan kelompok yang focus pada pertanian dan peternakan sekaligus konservasi hutan. Untuk mendukung program di Kapaka Tolu, air yang berada dalam gua dinaikan dengan mesin. Koordinator kelompoknya adalah Radu Kalada,” jelasnya.

Mariety yang kini melanjutnya Yayasan Pakta yang berkantor di Tambolaka SBD mengungkapkan betapa pentingnya menjaga lingkungan dan alam. Penanaman pohon bakau di muara Mananga Aba pada 21 tahun lalu oleh mendiang suaminya bersama kelompok adalah upaya bersama menjaga lingkungan hidup. Bahkan menjadi satu daya tarik tersendiri bagi perkembangan wisata. Menjadi spot foto dan bersantai. Selain memang tanaman bakau adalah tanaman yang tumbuh di zona pasang surut yang berfungsi mencegah abrasi dan erosi. Akar kokoh dan jaringannya yang rapat mampu menahan gelombang, mengendapkan lumpur dan menyerap karbon sekaligus habitat penting berbagai fauna laut dan ekowisata.

Pada awal tahun 2026 pada hari Minggu, 2 Januari 2026 menjadi moment yang membawa kenangan khusus bagi Mariety (Mama Dian). Mengenang mendiang suami yang meninggal pada 27 Desember 2004 (22 tahun silam) bersama anak-anak melakukan napak tilas. Menyusuri kembali jejak dan aktifitas total suami demi kemajuan Sumba.

Mananga Aba sebagai salah satu pantai dengan garis pantai berpasir putih mestinya menjadi destinasi utama pariwisata dalam kota Tambolaka. Pantai ini hanya berjarak 10 km dari kota dengan akses jalan yang memadai. Telah berdiri beberapa hotel. Namun pantai ini seolah ditelantarkan. Sama sekali tidak ada papan penunjuk arah, atau semacam tugu ucapan selamat datang. Benar-benar tidak terawat. Padahal jika dikelola dengan baik, PEMDA SBD focus menata Pantai Kita, akan menarik banyak wisata domestic dan mancanegara. Salah satu warga yang ditemui mengatakan setiap hari minggu pasti ramai sekali pengunjung. “Kios lumayan pemasukan. Pada hari-hari biasa tetap ada pengunjung tetapi kebanyakan anak muda yang sekedar foto-foto atau bersenang-senang bersama temannya. Di sini pengunjung aman, tidak ada yang ganggu atau palak,” ungkapnya.**Eka












