SBD,IDEMAnews- Secara historis, pasola di Kodi hanya dilaksanakan pada setiap bulan Pebruari di dua lokasi (lapangan) di bawah tanggung jawab rato nyale yang berkedudukan di Kampung Tosi dan Kampung Bukambani. Sehingga pasola di Kodi yang dilaksanakan pada bulan Maret di tiga lokasi sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya pada tahun 2026, patut dipertanyakan dasarnya(?) Apa dasar perhitungan waktu pelaksanaannya? Karena untuk menentukan pelaksanaannya, ada tanda-tanda alam yang ‘dibaca’ oleh Rato Nyale untuk memulai perhitungan waktu pasola. Rato nyale siapa yang bertanggung jawab?
Dari beberapa narasumber yang ditemui IDEMA termasuk Gidion Katupu salah satu tokoh dari Kampung Tosi mengungkapkan bahwa seluk-beluk pasola; terkait waktu, tempat dan tata cara pelaksanaannya disampaikan oleh Rato Nyale. Rato yang tidak berkedudukan sebagai rato nyale sama sekali tidak ikut menentukan waktu pelaksanaan dan tempat. Yang melakukan ritual adat dan menentukan waktu pasola sepenuhnya diserahkan kepada Rato Nyale.
Berdasarkan perhitungan bulan gelap dan terang, ada bamboo yang mulai bertunas, pelepah kelapa yang patah dan jatuh tertancap tanah karena angin kencang, serta terisinya air suci dalam rumah rato nyale (biasa air ini digunakan untuk mengobati luka rasa sakit karena ikut pasola, konon air ini diyakini bisa menyembuhkan luka),penetapan waktu pasola disampaikan kepada segenap rato dari kampong-kampung adat. Selanjutnya, disampaikan kepada camat. Selanjutnya camat yang berkoodinasi dengan para pihak termasuk PEMDA dan kepolisian. “Pada era 60-an awal sampai tahun 90-an, pemerintah biasanya pada hari pasar, menyampaikan pengumuman tersebut kepada masyarakat luas,” jelas Gidion,
Pada akhir-akhir ini saya heran dan bingung sendiri. Pertama, lokasi dan jadwal pasola di Kodi bertambah. Ada dasarnya? “Pasola pada bulan Maret, tidak ada di Kodi. Yang ada hanya di Wanokaka-Sumba Barat. Di Kodi pada bulan Maret sebatas pergi ke laut memungut nyale. Biasa disebut nyale kecil. Sedangkan nyale besar terjadi pada puncak pasola hari kedua yang dilaksanakan di Rara Winyo. Biasanya malam menjelang pagi orang beramai-ramai memungut nyale. Biasanya kalau jumlah nyale yang didapat semakin besar, itu tanda-tanda panen berlimpah dan sebaiknya. Nah, apakah sekarang ini nyale sedikit bahkan tidak ada, pertanda gagal panen? Paceklik akan datang? Atau memang perhitungan waktu pasola yang tidak tepat karena intervensi pemerintah? Walahualam!
“Pasola seperti dijadwalkan dan resmi dirilis PEMDA SBD yang dilaksanakan pada Senin, 9-Rabu, 11 Maret 2026, ada dasarnya secara budaya dan adat? Sama sekali tidak ada. Sebaiknya dikoreksi dan dibatalkan karena tidak ada payung hukum adatnya. Itu semata kepentingan yang diluar konteks adat sebagai keluhuran budaya Kodi. “Jika pemerintah mengesahkan dan membuat perhitungan penanggalan sendiri tentang waktu pelaksanaan, otoritas apa yang dimiliki? Apakah bupati SBD misalnya setingkat rato nyale juga? Siapa yang memberikan mandate itu?,” ungkap Gidion geram.
Karena itu tentang pasola dan budaya perlu diluruskan. “Pasola di Kodi sebenarnya hanya dilaksanakan pada bulan Pebruari sedangkan hari tanggal sesuai perhitungan rato nyale. Sedangkan pada bulan Maret hanya pungut nyale. Yang ada pasola di Wanokaka. Jika ada pasola pada bulan Maret di Kodi apalagi bukan di Bondo Kawango dan Rara Winyo, itu artinya hanya pasola-pasolaan yang ritualnya diluar konteks adat. Bisa dianggap sebagai pasola intertainmen atau semacam atraksi atau pertunjukan atraksi semata sebagai hiburan tanpa embel-embel keaslian budaya istiadat Kodi. Ini kan sama dengan mereduksi nilai-nilai filosofis ritual pasola. Apalagi saya dengar selentingan supaya peserta pasola mengenakan kostum yang seragam. Misalnya dari satu kubu mengenakan kaos merah,sedangkan dari kubu sebelah mengenakan kaos biru. Ide ini sudah disusupi kepentingan entah politik atau hiburan semata,” jelasnya ketus.

Jadwal Pasola yang dirilis Pemerintah Kab. SBD
| Hari/Tanggal | Tempat | Waktu |
| Senin, 9 Maret 2026 | Maliti Bondo Ate Kodi Bangedo | 08.00-12.00 WITA |
| Selasa, 10 Maret 2026 | Waiha Kecamatan Kodi Balaghar | 08.00-12.00 WITA |
| Rabu, 11 Maret 2026 | Wainyapu Kec. Kodi Balaghar | 08.00-13.00 WITA |
Jika dicermati dari cerita turun-temurun yang diyakini umumnya orang Kodi bahwa rato nyale yang mempunyai kuda pasola hanya dari Tosi Bukabani. Lokasi pelaksanaan pasola pada setiap tahun hanya di Bondo Kawango dan Rara Winyo. “Dan pada masa Raja Horo bertahta, mendiang secara adat meminta kepada Rato Nyale di Tosi, agar pasola juga diadakan di kampong Raja, Kampung Ranggabaki di Bangedo. Permintaannya ditandai dengan membawa seekor kerbau jantan yang dibalas dengan seekor babi taring. Lalu disepakati, pasola pagi hari sekitar jam delapan sampai jam Sembilan pagi di Kampung Ranggabaki dengan istilah ndaru ndara (pemanasan kuda). Pelaksanaan ini sebagai bentuk menghormatan atas permintaan ina ama (raja). Selanjutnya pada sore hari dilanjutkan di Bondo Kawango. Pada hari puncak pasola pada keesokan hari dilaksanakan di Rara Winyo. Jadi tidak ada dalam sejarah ada pasola di bulan Maret di kodi yang dilaksanakan di Bondo Maliti, Waiha, dan Wainyapu. Dulu sekali lokasi itu sebatas tempat latihan,” tambah Gidon serius.
Jika pasola yang dilaksanakan pada bulan Maret di Bondo Maliti, Waiha, dan Wainyapu sebatas keperluan hiburan dan pariwisata, boleh dipertimbangkan dilaksanakan pada bulan Juli sesuai musim panas ketika wisatawan mancanegara berlibur (?). Akan lebih banyak mendatangkan wisatawan asing yang datang menonton. Ini lebih masuk akal karena kita sebenarnya sudah mengebiri esensi pasola sebagai bagian ritual adat sebagai warisan leluhur dan kearifan lokal. Dan jika tidak ada dasar historis dan budaya luhur, hari libur pasola yang ditetapkan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya pun menjadi sesuatu yang tidak berdasar dan bersifat ilegal.*Yos
Bakal terbit! Bagian 4: Pasola Pada Bulan Maret di Kodi, Untuk Apa dan Siapa? Bagian 5: Legenda Mengapa Ada Pasola di Wanokaka?












