Berita  

Seri Pasola_Bagian Kedua: Pemerintah Intervensi, Jadwal dan Tempat Pasola Bertambah

ILustrasi: Atraksi Pasola (Foto: indonesiajuara.asia)

SBD, IDEMAnews-Sisi lain dari pasola yang kemudian patut dicurigai sebagai biang kerok tergerusnya kesakralannya adalah bahwa pemerintah mengintervensi pasola sebagai salah satu paket budaya untuk kepentingan pariwisata. Suatu kepentingan industri pariwisata semata. Bagaimana mendatangkan wisatawan dan bentuk investasi industry baik dari pemerintah pusat maupun swasta.

Gidion Katupu, salah satu legenda pasola era tahun 60-an sampai 70-an mengungkapkan bahwa pasola terjadi pertama kali di lapangan pasola Welabubur sehingga ada istilah nghinda kaba. Selanjutnya, seiring dengan perpindahan perkampungan Tosi ke wilayah pesisir pantai, lokasi pasola juga berpindah. “Sehingga sampai pada saat dunia pariwisata belum berkembang, pasola di Kodi hanya dilaksanakan di Bondokawango dan Weiyengo. Selanjutnya atas permintaan Raja Horo, tentu sesuai mekanisme adat. Beliau membawa seekor kerbau jantan kecil ke Kampung Tosi-Rato Nyale. Permintaannya dipenuhi sehingga pasola juga di gelar di Kampung Raja, Kampung Ranggabaki di Bangedo. Pada pagi hari sekitar jam delapan sampai jam Sembilan pagi dilaksanakan pasola. Istilahnya ndaru ndara (terjemahan harafiah: kuda berlari di lapangan dengan penunggangnya. Aktifitas seremonial, kuda berputar-putar dengan intensitas pasola yang bersifat formalitas,” jelasnya.

Selanjutnya, peserta pasola bergeser ke lapangan Bondokawango. Di sinilah pasola sesungguhnya dimulai. Sekitar jam dua siang (14.00) pasola digelar yang ditandai dengan masuknya kuda rato nyale yang berputar mengelilingi lapangan. Dan pasola akan berakhir ketika rato nyale memberi perintah. Dengan sendirinya semua berhenti dan berakhir meskipun di lapangan sedang seru-serunya. “Dan pada hari puncaknya keesokan hari, pasola dilaksanakan di Weiyengo pada pagi hari. Ketika matahari sudah tinggi sekitar jam 12 siang, atau pada saat matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan kita sendiri tak tampak, pasola berakhir. Rato Nyale akan memberikan informasi dan sekaligus perintah membubarkan diri. Dan tidak aka nada protes atau perdebatan karena perintah dimulai dan diakhirinya pasola, mutlak menjadi kewenangan penuh rato nyale. Jadi Pasola di Kodi sebenarnya hanya berada di lokasi itu yakni di Bondokawango dan Weiyengo,” tambahnya.

Selanjutnya, sampai saat ini  pasola di Kodi dilaksanakan lebih dari dua hari dan di enam titik pasola. “Saya tidak merasa aneh karena perhelatan pasola saat ini cenderung mengikuti kepentingan bisnis dan target pemerintah. Sehingga bahkan terkait waktu dan tempat pelaksanaan, pemerintah bisa ikut menentukan kapan dan dimana. Hal inilah yang mengurangi kesakralan pasola itu sendiri. Jadi ada ruang untuk balas-membalas di arena atau lapangan lain. Hal ini tidak positif bagi pemahaman atas nilai-nilai dasar dalam pasola. Hanya bagus untuk kepentingan bisnis pariwisata. Karena dilaksanakan di wilayah Bangedo dan Balaghar misalnya, sambil memperkenalkan destinasi wisata, entah pantai, kampong adat,” ungkapnya berapi-api.

Sebagai informasi, berikut jadwal pelaksanaan yang dipusatkan di wilayah Kecamatan Kodi dan Kodi Bangedo dan rangkaian kedua akan berlanjut di wilayah Kodi Bangedo dan Kodi Balaghar.Yang dilaksanakan selama enam hari.

Jadwal Bulan Februari 2026

NoHari/TanggalTempatWaktu
1Senin, 9 Februari 2026Homba Kalayo Kodi Bangedo08.00-12.00 WITA
2Selasa, 10 Februari 2026Bondo Kawango Kecamatan Kodi13.00-17.00 WITA
3Rabu, 11 Februari 2026Rara Winyo Kecamatan Kodi08.00-13.00 WITA

Jadwal Bulan Maret 2026

NOHari/TanggalTempatWaktu
1Senin, 9 Maret 2026Maliti Bondo Ate Kodi Bangedo08.00-12.00 WITA
2Selasa, 10 Maret 2026Waiha Kecamatan Kodi Balaghar08.00-12.00 WITA
3Rabu, 11 Maret 2026Wainyapu Kec. Kodi Balaghar08.00-13.00 WITA

Tentu saja jadwal ini tidak terlepas dari suatu kesepakatan adat yang dipengaruhi kekuasaan dan kepentingan bisnis pariwisata. Bahkan Gidion menduga kuat, pemerintah terlalu masuk dalam urusan ritual adat atau pasola. Sehingga keputusan Rato Nyale tidak sepenuhnya berdasarkan pertimbangan atau tanda-tanda alam yang menjadi rujukan tradisi. Soal penetapan tanggal dan tempat. Patut diduga hanya pertimbangan supaya tamu bertahan beberapa hari di sini. Bahkan pernah ada kejadian yang lupa persisnya tahun berapa, karena ada kunjungan pejabat dari pusat lalu dipaksakan supaya dilaksanakan pasola (semacam pasola-pasolaan) di lokasi pasola.

“Jadi harus ada kearifan bersama untuk kita semua. Kalau mengikuti kemauan satu dua orang, pasola kehilangan esensi makna dan lebih dianggap sebagai tradisi yang lebih menonjolkan nilai intertainment. Nah, kalau sudah demikian, generasi muda kita ke depan tidak akan memahami secara utuh. Akhirnya pasola sekedar ikut hura-hura seperti budaya pop pada umumnya. Ini memprihatinkan. Jadi, sebaiknya tokoh-tokoh ada terutama di Kodi, duduk bersama di tikar adat untuk membahas secara tuntas. Karena bisa jadi, di Kodi Utara bisa ada pasola benaran. Saat ini sudah ada to pasola di lapangan SDM Kori meskipun kemudian terjadi insiden maut (pembunuhan di lokasi pada saat orang ramai-ramai menonton-Rabu, 28 Januari 2026). Padahal di sana hanya untuk latihan tetapi sudah menggunakan kayu layaknya di arena pasola. Jadi pasola sebatas hiburan, tontonan dan mungkin tergerus menjadi arena untuk sekedar adu kekuatan dan keberanian. Buat apa petugas kepolisian dan tentara, boleh masuk dalam arena pasola? Mestinya, untuk pengamanan jika terjadi keributan, bukan aparat Negara apalagi dengan menggunakan senjata untuk membubarkan paksa. Tetapi karena kondisi kita dipaksa mengamini”.*Yos

Nantikan! Akan terbit Seri Pasola_Bagian Ketiga: “Tanda-Tanda Alam Menentukan Hari H Pasola”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *