Tatan Abdurahman,Kepala Madrasah Al Fallah Weetobula: “Murni Hanya Ingin Klarifikasi, Malah Berujung Ricuh”

FOTO:Astatan Abdurahman, S. PdI,, MM, Gr, Kepsek MAS Al Fallah Weetobula (Dok.Narasumber)

SBD,IDEMAnews-Peristiwa penganiayaan kepada M. Yusuf dan Jamal Efendi Wungo (Jumat, 13 Maret 2026) hingga kini sudah memasuki tahap masing-masing pihak yang berseteru melapor ke Polres SBD. Di sini lain peristiwa itu menjadi sangat viral karena muncul berita di platform media social dengan berbagai versi. Karena itu, IDEMANews mencoba menggali informasi lebih dalam baik dari korban maupun pelaku.  Astatan Abdurahman, S.Pd I,MM, Gr yang dijumpai bersedia memberikan beberapa klarifikasi belum lama ini.

“Terimakasih teman-teman media  telah meliput dan memberitakan kasus ini. Sampai saat ini, saya merenung dan bertanya dalam diam, dalam hati pada diri sendiri kok bisa begini (terjadi-Red). Saya awalnya hanya berniat mampir ke rumahnya Yusuf untuk bertanya dan klarifikasi tentang kejadian di Masjid Al Falah Weetobula. Kenapa dia berteriak diam pada saat saya sedang berkotbah. Niatnya hanya itu sehingga saya spontan singgah di rumahnya sepulang dari Masjid. Saya masih mengenakan sarung, jubah dan jas almamater saya. Jadi spontan saja dan tidak ada perencanaan untuk menganiaya bahkan dibilang mengeroyok atau saya menyuruh orang untuk melakukan itu,” ungkap Ustad Tatan.

Saya langsung singgah rumahnya karena sesudah Jumatan, Pak Yusuf sudah langsung pulang. Kalau masih di Masjid, mungkin ceritanya lain. Karena dia sudah pulang sehingga saya inisiatif bertemu di rumahnya. Pada saat itu saya langsung bertanya: kenapa ribut dan berteriak dengan mengatakan diam? “Lalu dijawab Pak Yusuf dengan ketus: trus kenapa memang? Sehingga selanjutnya tidak terkendali dan saya berusaha mengendalikan situasi. Kalau di lihat saya berada di tengah untuk melerai dan meredam amarah termasuk dari adik-adik saya yang kebetulan berada di situ. Orang yang datang itu jua kebanyakan orang tua siswa tempat saya mengajar. Jadi kalau saya dibilang memaki orang yang berada di situ, sama dengan saya maki orang tua murid dari siswa yang bersekolah di MAS Al Falah Weetobula,” jelasnya.

Lanjutnya, sehingga dalam berbagai pemberitaan jika saya dikatakan memukul, memaki-maki dan terhadap Saudara Jamal saya menangkap dan memiting dia dari belakang supaya adik-adik saya memukul, dalam hal ini saya tidak ingin memperkeruh. Saya tidak ingin menanggapi karena tidak mungkin saya memaki atau mengungkapkan kata-kata kotor. Saya tidak mungkin menjilat ludah saya sendiri karena sebagai ustad saya baru saja berkotbah tentang hal-hal yang baik dalam perilaku.

“Sebagai Ustad hanya murni ingin klarifikasi dan memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam yang benar. Ada dasar dalam hadis yang shahi dalam Islam bahwa ketika kotib kotbah dan berteriak diam, itu berarti semua menjadi sia-sia. Dan ketika saya klarifikasi kenapa berteriak dan bilang ‘diam’ saat saya kotbah, malah ditimpali ketus: jadi kenapa memang? Jawaban ini yang memicu saudara mereka bereaksi. Jadi spontan saja karena kalau ada perencanaan pasti kami datang dengan membawa alat pertahanan diri atau menyerang. Ini kan saya datang masih lengkap dengan sarung saat kotbah. Kalau ini menganiaya, pasti saya pulang pakai celana pendek. Kalau dilihat dari postingan yang beredar, saya posisi di tengah adik dan Yusuf atau Jamal untuk melerai dan tenangkan situasi. Murni mau klarifikasi  tetapi berujung ricuh, ini yang membuat saya merasa menyesal. Pergi dengan maksud baik tetapi justru berakhir dengan tidak baik,” ungkap Ustad Astatan yang juga merupakan Kepala Sekolah Madrasah Aliah Swasta Al Fallah Weetobula.   

Dalam situasi puasa dan Idul Fitri hanya menghitung hari saja, ungkap Ustat Astatan, biarlah salah ada di saya. Ini demi kebaikan bersama dan kebaikan umat. Ini musibah atau apes yang sudah terjadi. “ Jika ada niat untuk memukul dan menganiaya, yang jelas pasti korban Pak Yusuf tidak sempat lagi pergi lapor ke Polres SBD tetapi pasti dilarikan ke rumah sakit. Karena yang jelas kami adik kakak dari Waikelo semua badan besar-besar. Saya yakin kalau memukul sepenuh tenaga apalagi orang dalam situasi puasa, pasti dampaknya parah. Jadi ini saya sampaikan agar masyarakat yang menonton video atau membaca berita sebelumnya, tahu kronologis dan bagaimana awal terjadi cekcok mulut yang berakhir baku dorong. Apalagi saat Pak Jamal datang, dalam situasi itu tidak terkendali. Karena dilihat membawa pedang samurai padahal hanya kayu yang dibuat menyerupai pedang samurai, adik adik mungkin berpikiran dia mau ikut campur atau bahkan mungkin ikut menyerang sehingga lalu terjadilah seperti itu. Jadi itu sifatnya spontan dan incidental saja,” ungkapnya dalam nada penyesalan.

Sampai saat ini, kami sudah diambil keterangan oleh polisi jua. Kita serahkan bagimana yang terbaik. Sebagai pribadi, ustad dan yang bergerak dibidang pendidikan, peristiwa ini patut disesalkan. Ketika ditanya apakah ada upaya konkrit untuk rekonsiliasi, dengan segap beliau menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan diupayakan secara maksimal. kalaupun saya dinyatakan bersalah dan divonis penjara, saya siap bertanggung jawab. Dalam arti sebagai pribadi, pasti ada kekeliruan dan kealpaan dan kita tidak menduga jika ini berakhir sebagai tindak pidana. Maaf memaafkan adalah salah satu nilai yang terkandung dalam masa puasa, tambahnya kemudian.*EE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *