Harga Pertamax Naik, SPBU Diserbu Masyarakat

Antri BBM-Sejumlah kendaraan lakukan antri BBM/Pertamax di SPBU Kodi Utara

Sumba Barat Daya, IDEMAnews — Sejak Rabu, 10 Juni 2026, masyarakat memadati sejumlah SPBU di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya. Masyarakat menyerbu SPBU untuk mengisi kendaraannya. Hal ini tampak sebagai respon atas kenaikan harga BBM. Sesuai pantauan kru IDEMA di sejumlah lokasi, antrian tertib dan terkadang terjadi ketegangan atau baku pukul seperti terjadi di SPBU Taworara. Antrian di sejumlah lokasi SPBU padat. Bahkan di beberapa lokasi kendaraan sudah parkir sejak malam hari. Hal ini dipicu kekuatiran warga jika terjadi kelakaan BBM.

Kenaikan BBM jenis pertamax secara nasional memicu masyarakat panic dan berusaha mengisi bensin di sejumlah SPBU. Hampir semua SPBU penuh sesak dengan berbagai kendaraan roda dua dan lebih seperti truk dump, mobil pribadi dan kendaraan angkutan umum seperti bus dan travel. Domi salah satu sopir travel yang dijumpai di SPBU Taworara mengaku sudah antri lebih dari satu jam tetapi belum sampai giliran. “Harus sabar karena perjalanan jauh ke Waingapu. Kita tidak bisa spekulasi bisa mengisi di Waikabubak atau Anakalang, Sumba Tengah. Ini untuk persiapan esok berangkat. Biasanya kita tidak terlalu lama antri,” ungkapnya.

Pantauan IDEMA per hari Kamis, 11 Juni 2026 kendaraan pribadi banyak yang antri. Sejumlah kendaraan jenis pick up juga mendominasi antrian di sepanjang jalan. Dan yang tampak aman-aman saja adalah sejumlah sepeda motor dengan tengki besar yang kumal. Rata-rata motor jenis ini digunakan untuk tap bensin. Pemiliknya menggunakannya untuk mendapat bensin dan menjual kembali secara langsung di pinggir jalan secara mengecer. Tetapi sebagian antri tap bensin dan langsung dijual kembali kepada penjual ecer di pinggir jalan. Harga per jerigen 20 liter berkisar antara Rp.140.000 sampai Rp. 160.000. “Ini harga normal kaka. Kalau atri banyak begini, harganya bisa lebih. Sekarang kaka bisa lihat sendiri. Sebagian besar yang jual ecer di pinggir jalan, stok kosong jadi tidak jualan.,” ungkap Mama Reta.

Dari arah Wewewa Timur, Wewewa Tengah, Webar, Wewewa Selatan, Kota Tambolaka, dan SPBU di Kodi, kondisi padat merayap, penuh sesak dengan kendaraan. Tampak orang tap bensin berjibaku untuk segera mendapat bensin. “Ini hanya bisa dua kali kaka. Susah. Sebelumnya, kita bisa tiga atau empat kali. Ini susah dan kita usaha supaya dapat memang sebelum dilarang orang tap bensin. Biasanya ada petugas dari Dinas perhubungan dan polisi yang berjaga dan mengatur antrian,” ungkap salah satu yang memang berprofesi tap bensin.

Sedangkan salah satu penjual eceran di jalur dekat Puskesmas Watukawula yang ditemui mengaku was-was. Apa pasal? “Mama ambil uang koperasi harian. Kalau bensin sulit dan stok tidak ada, susah bayar cicilan. Ini ambil koperasi harian bukan satu saja. Selama ini lancar saja dan juga bisa buat biayai anak sekolah SMP. Mama harap bensin stok cukup. Kita yang jual jadi susah dapat dan kalau kasih naik harga, kuatir tidak cepat laku. BIsa lihat sepanjang jalan banyak jualan bensin. Itu teman-teman rata-rata ambil koperasi,” ungkap Mama Maria resah.

Salah satu pegawai P3K Paruh Waktu yang bekerja di salah satu dinas di Kadul, pusat pemerintahan Kabupaten SBD mengaku kesal karena antri lama dan bisa terlambat masuk kerja. Dia memilih membeli bensin eceran saja. Belum tentu dapat bensin meski sudah antri satu jam lebih. “Selama ini beruntung juga punya langganan penjual eceran. Sudah pasti kadang-kadang kita hutang bensin eceran juga. Kalau di SPBU tidak mungkin bisa bon kaka. Tetapi saya berharap harus ada pengaturan sehingga SPBU tidak terkesan dikuasai orang yang tap bensin. Kasihan juga kita hanya modal uang Rp 40.000 mau antri susah. Mereka sudah atur antrian sehingga kita yang isi biasa terdesak lalu malah ada diurutan belakang. Ini kadang-kadang yang membuat keributan di SPBU. Motor yang digunakan juga sebaiknya yang jelas bentuknya jangan sampai seperti rongsokan. Kalau kaka lewat Kodi, SPBU Kori, di Bondo Kodi didominasi motor rongsok dengan tengki besar. Ini seolah-olah polisi tutup mata. Malah kita curiga, jangan sampai ada oknum yang justru modali. Jadi mereka tetap lindungi aktifitas mereka,” ungkap pria yang minta identitasnya disembunyikan.

Kondisi harga pertamax jenis nonsubsidi naik sebesar Rp. 4.000 menyebabkan demostrasi mahasiswa di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa. Kenaikan harga ini menyebabkan masyarakat yang selama ini menggunakan pertamax beralih menggunakan pertalite. Situasi ini mendorong orang untuk mengisi bahan bakar secara berlebihan.*EE/In

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *