Literasi Rendah: Mengapa Mahasiswa Semakin Jarang Membaca Buku?

Oleh: Cindy Rambu Lingga Wandal

Di ruang-ruang kelas perguruan tinggi saat ini, mahasiswa tampak lebih akrab dengan layar gawai daripada buku bacaan. Perpustakaan mulai kehilangan peminat, sementara media sosial menjadi ruang yang paling sering dikunjungi. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya literasi di kalangan mahasiswa sedang menghadapi tantangan serius di era digital.

Kemajuan teknologi memang memudahkan mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat. Hanya melalui telepon genggam, berbagai pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa dampak lain, yaitu menurunnya kebiasaan membaca buku secara mendalam. Mahasiswa kini lebih terbiasa menerima informasi singkat melalui video pendek, unggahan media sosial, atau ringkasan daring dibandingkan membaca buku secara utuh.

Padahal, membaca buku bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan proses membangun kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan. Ironisnya, di tengah status mahasiswa sebagai kaum intelektual, minat membaca justru semakin menurun. Banyak mahasiswa lebih memilih mencari jawaban instan di internet daripada memahami referensi ilmiah yang lebih mendalam dan terpercaya.

Rendahnya budaya literasi di Indonesia masih menjadi perhatian hingga saat ini. Berbagai laporan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Bahkan, data UNESCO dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) yang dikutip oleh Kompas.com menyebutkan bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001 persen atau sekitar satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca tinggi (Kompas.com, 2023).

Selain itu, rendahnya minat membaca juga dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap buku dan fasilitas perpustakaan yang belum merata. Di sisi lain, pengaruh media sosial semakin sulit diabaikan. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial dibanding membaca buku atau jurnal ilmiah. Algoritma media sosial membuat pengguna bertahan lebih lama di depan layar sehingga kemampuan berkonsentrasi saat membaca perlahan menurun. Akibatnya, mahasiswa menjadi lebih terbiasa menerima informasi secara cepat daripada memahami isi bacaan secara mendalam.

Fenomena tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit mahasiswa yang membaca buku hanya ketika menghadapi ujian atau menyelesaikan tugas kuliah. Budaya copy-paste dari internet pun semakin marak karena dianggap lebih praktis. Bahkan, sebagian mahasiswa lebih hafal tren media sosial dibandingkan isi buku yang dipelajari selama perkuliahan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya dapat memengaruhi kualitas intelektual mahasiswa. Rendahnya minat membaca dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan menganalisis masalah, serta kemampuan menyaring informasi yang benar. Padahal, mahasiswa seharusnya mampu berpikir rasional dan ilmiah, bukan sekadar mengikuti arus informasi digital yang belum tentu benar.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kembali budaya literasi mahasiswa. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar pendidikan, tetapi juga ruang untuk membangun tradisi intelektual. Diskusi buku, forum ilmiah, dan berbagai kegiatan literasi perlu terus didorong agar mahasiswa terbiasa membaca serta memahami sumber bacaan yang berkualitas.

Selain itu, mahasiswa juga perlu menyadari bahwa membaca merupakan investasi pengetahuan jangka panjang. Meskipun hasilnya tidak diperoleh secara instan, kebiasaan membaca mampu membentuk pola pikir yang lebih terbuka, kritis, dan analitis. Teknologi digital seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas akses terhadap buku elektronik, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber pengetahuan lainnya, bukan hanya sebagai media hiburan semata.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari gelar yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan berpikir dan kekuatan literasi seseorang. Sebagai generasi muda dan agen perubahan, mahasiswa perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebiasaan membaca agar kualitas intelektual tetap berkembang di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat.

Exit mobile version