Sumba Barat Daya, IDEMAnews — Dinas Perpustakaan Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya menargetkan 25 TBM (Taman Baca Masyarakat) berdiri dan sungguh-sungguh mengakar di tengah masyarakat. “Hal ini selaras dengan visi misi Ratu Ngadu Bonnu Wula,ST, Bupati Sumba Barat Daya. Budaya literasi harus tumbuh di tengah masyarakat sejak dini pada usia dini. Karena salah satu fokus dan menjadi inti percepatan pembangunan adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Kami berusaha menjalin kerja sama dengan penerbit, pemerintah pusat, propinsi NTT dan Perpustakaan Nasional sehingga pada akhir tahun setiap TBM mempunyai koleksi bacaan minimal 1000 judul buku,” ungkap Wilhelmus Mali, SP, Kepala Dinas Perpustakaan Daerah SBD.
Untuk mendukung capaian target baik dari sisi jumlah TBM dan kualitasnya baik itu kapasitas pengelola, manajemen pengelolaan, lanjut Wilhelmus yang didampingi Robi Setyawan, SE salah satu kabid yang membidangi pengembangan TBM, Dinas Perpustakaan Daerah melakukan kunjungan rutin, memberikan pelatihan dan pendampingan secara maksimal kepada pengelola. Minimal dinas akan mengunjungi TBM dua kali dalam sebulan. Selain itu, menjalin kerja sama yang erat dengan dinas dan badan terkait, pemerintah setempat seperti kecamatan dan desa. Termasuk tokoh agama, gereja, panti asuhan dan sekolah-sekolah yang berada di desa terpencil.
“Secara internal kami berbenah dan mengevaluasi kinerja dan membangun etos baru; komitmen untuk mencapai target. Komitmen agar TBM yang dibangun mempunyai manfaat dan keberlanjutan dalam pengelolaannya. Selama ini sesuai hasil kajian, terdapat 168 TMB yang tersebar di seluruh SBD. Namun yang berkategori masih aktif kurang lebih hanya 15 TBM. Secara de yure 168 buah TBM tetapi de fakto hanya ada sekitar 40 TBM dan yang aktif, masih bisa ditelusuri jejaknya hanya 15 buah tetapi masih mati suri karena pelayanan tidak stabil. Kami akan bangun komunikasi intensif dan kunjungan kepada TBM yang telah terbentuk agar TBM tersebut aktif kembali. Selain itu, ditargetkan 25 TBM baru yang dikelola secara baik,” ungkapnya.
Terkait pengajuan pengelolaan TBM, Robi, salah satu kabid menjelaskan bahwa masyarakat yang berminal dan peduli pada dunia anak-anak, dunia literasi cukup mengajukan proposal atau usulan ke dinas. Dengan menyertakan fotocopy KTP (Kartu Tanda Penduduk) pengelola sebanyak dua orang, foto, foto titik koordinat rumah TBM dan nomor HP. “Selanjutnya kami akan kunjungi dan melihat dari dekat aktifitas yang ada. Sekaligus memberikan beberapa petunjuk praktis bagaimana pengelolaan dan bentuk pelayanan yang harus menjadi komitmen. Minimal pelayanan dalam seminggu sebanyak dua kali dan kalau boleh lebih akan lebih bagus. Untuk lokasi, tidak harus yang bagus sekali tetapi nyaman bagi anak-anak ketika melakukan aktifitas membaca dan aktifitas tambahan lain. Mengapa dibutuhkan foto titik koordinat lokasi? Karena TBM yang mendapat bantuan buku, akan langsung dikirim ke alamat TBM. Tidak melalui dinas lagi. Kami berkomitmen membangun kemitraan dengan stakeholder dan sosialisasi secara masif” jelas Roby serius.
Saat ini sudah beberapa kelompok mengajukan permohonan TBM dan sudah berjalan. Segera setelah kami lakukan kajian dan pembinaan, diterbitkan SK (Surat Keputusan) TBM tersebut. Sesuai arahan bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wula, ST, salah satu hal yang juga harus menjadi perhatian adalah adanya kenyataan masih banyak anak-anak usia sekolah dasar yang belum lancar membaca, menulis dan berhitung.
“Nah, salah satu tujuan hadirnya TBM di SBD juga untuk memberantas buta aksara. Diharapkan di masing-masing TBM ada pelayanan membaca, menulis dan berhitung bagi anak-anak seusia SD dan SMP bahkan tingkat SLTA. Kita harus berkolaborasi dan membangun komitmen untuk bekerja secara iklas dan maksimal. Melalui TBM selain menumbuhkan literasi juga membangun karakter generasi muda. Kita tahu bersama, buku adalah jendela dunia. Anak-anak akan tumbuh dengan pikiran dan jiwa yang baik. Membangun jati diri sehingga membawa perubahan. Anak-anak tidak hanya asyik dengan diri sendiri dengan bermain HP tetapi lebih dari itu, mereka sadar bahwa HP bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat misalnya sebagai sumber literasi. Bukan sekedar main game. Ini sejalan dengan arahan bupati SBD agar peningkatan mutu pendidikan juga bergerak dari TBM-TBM yang dikelola dengan baik,” tambah Wilhelmus yang sudah pernah mendudungi berbagai jenjang jabatan baik Kepala UPTD Propinsi NTT, camat Kodi Bangedo, Camat Kodi Utara, sekretaris PMD, Kadis Pendapatan Daerah dan PLT Kadis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan SBD.
Pada moment HUT SBD ke-19, kita berharap TBM menjadi gerakan bersama dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini secara massif. Budaya membaca harus mengakar di tengah masyarakat terutama anak-anak. Kita harus sama-sama peduli pada generasi SBD ke depan. “Prinsipnya kita awali dari yang kecil dan sederhana dan hasilnya akan Nampak pada tahun-tahun berikut di masa yang akan datang. Dalam keterbatasan, kita bangun kerja sama yang proaktif. Ada TBM yang berada di rumah budaya. Anak-anak sangat antusias. Juga TBM Pondok Alang di Kodi Utara. Sederhana, kita harus kikis habis soal kesulitan anak-anak dalam hal membaca, menulis dan berhitung. Juga menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri,” pungkas Wilhelmus santai.*EE
