SBD,IDEMAnews- Sejumlah orang tua siswa SDK Kalena Wanno Kecamatan Kota Tambolaka kecewa dan bertanya-tanya karena simpanan pelajar milik anaknya, ternyata sudah kosong alias saldo nol rupiah. Setelah mengetahui dananya raib (Senin26/01/2026), sejumlah orangtua menanyakan kepada pihak bank. Pihak bank yang bertugas di KCP Tambolaka. Namun jawaban yang diterima bahwa dana tersebut telah dikembalikan ke kas Negara karena keterlambatan pengambilan. “Kita tidak percaya memang dan kami minta penjelasan dari pihak bank dan sekolah yang lebih transparan,” ungkap salah satu orang tua yang enggan namanya disebut.
Lanjutnya, kami sangat kecewa dan heran atas kejadian ini. Sekolah dekat sekali dengan lokasi bank BRI KCP Tambolaka. Bagaimana mekanisme kerja sama dan pelayanan terpadu yang baik kepada nasabah seperti kami ini. Sejak dini anak-anak sudah kenal Bank BRI dan dilatih menabung dengan mempunyai rekening buku tabungan di bank. Kenyataan seperti ini, kami terus terang sangat kecewa atas pelayanan pihak bank BRI KCP Tambolaka.
Sebagai gambaran kronologis kejadian sebagai berikut. Pada tanggal 25 Oktober 2025 dana Tabungan BRI Simpel Simpanan Pelajar masuk ke rekening siswa SDK dengan saldo. Sehingga pada tanggal yang sama, orangtua mencairkan setengah dari total saldo yang ada di rekening buku tabungan. Saat itu dana yang bisa dicairkan maksimal setengah dari jumlah yang terterah di saldo. Karena di bawah koordinasi pihak sekolah, orangtua tidak menaruh curiga raibnya dana simpanan tersebut.
Lalu pada Sabtu, 24 Januari 2026 kepala sekolah SDK Kalena Wanno mengumumkan kepada siswa penerima bantuan Simpanan Pelajar agar orangtuanya mengecek dana tersebut dan mencairkan di Bank BRI KCP Tambolaka. Berdasarkan informasi tersebut, orangtua siswa penerma dana Simpel pada hari Senin, 26 Januari 2026 pergi ke bank dengan membawa buku tabungan dengan maksud mencairkan dana tersebut. Tetapi betapa kagetnya mereka ketika mendengar penjelasan pihak bank bahwa dana tersebut telah dikembalikan ke kas Negara.Setelah buku diprint terterah bahwa dana sisanya dicairkan pada tanggal 10 November 2026.
“Anehnya, dana dicairkan tetapi sebagai orangtua yang biasa mengambil tidak dikonfirmasi. Tanpa sepengetahuan kami ada pencairan pada tanggal 10 November 2026. Kalau alasan (pihak Bank BRI KCP Tambolaka-Red) uang dikembalikan ke kas Negara, sama sekali tidak masuk akal. Pertama jarak sekolah dan bank dekat tidak sampai satu kilometer. Kan bisa disampaikan kepada sekolah agar penerima dana pendidikan segera mencairkan jika dana sudah ada. Kedua, buku rekening yang kami pegang jelas-jelas judulnya Tabungan BRI Simpel Simpanan Pelajar. Namanya juga tabungan dan simpanan, kok uang dikembalikan ke kas Negara. Mestinya menjadi tabungan anak kami yang bisa dicairkan sewaktu-waktu untuk berbagai keperluan sekolah,” tambah ibu yang tampak emosi sekali tetapi tetap tenang ketika menjelaskan kepada IDEMAnews.
Sedangkan salah satu ibu orangtua siswa atas nama Fransiskus Leonteus Ghunu ketika bertemu mengungkapkan kekesalannya secara polos. “mama tetap tidak percaya. Namanya juga tabungan. Kenapa tidak ada sementara ada bukti pengambilan di buku. Sementara kami orangtua tidak tahu. Ini aneh dan saya akan tanya langsung kepala sekolah esok. Kasihan kita orangtua, uang sebesar Rp 450.000 bukan uang kecil. Tadi saya dengar mama-mama dorang omong. Ini tidak mungkin, pasti bank dan sekolah bersekongkol. Ada permainan dan dorang mau desak agar sekolah dan bank klarifikasi di depan semua orangtua siswa penerima bantuan tersebut,” ungkapnya sambil jalan kaki di siang bolong.
Sedangkan Tobias Dowa Lelu, SE, DPRD Kabupaten SBD sangat kaget ketika mendengar keluhan orangtua siswa tersebut. Ini harus ditindaklanjuti dan ada klafirikasi dari bank BRI KCP Tambolaka dan sekolah SDK Kalena Wanno. Kita tidak bisa biarkan hal-hal ini terus terjadi. Namun beliau menghimbau agar orangtua murid menghadapi ini dengan pikiran dingin. Beliau akan mengawal ini sampai ada kejelasan informasi dan pokok soalnya ada dimana.
“Hak anak didik terhadap bantuan pemerintah, tidak boleh diselewengkan oleh siapapun. Semua harus dikelola secara transparan dan akuntabel. Ini sangat merugikan anak-anak sekolah. Kita bisa bayangkan jika sekolah yang berada di pelosok karena keterbatasan akses informasi, bisa terjadi penyelewengan. Karena itu, perlu ketegasan untuk dinas terkait mengecek seluruh sekolah di SBD yang mendapat berbagai bantuan dana pendidikan. Masyarakat harus mendapat pelayanan yang baik sebagai nasabah bank,” ungkapnya tegas.**EE
