SBD,IDEMAnews-“Saya prioritaskan usulan masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat yang berada di dapil I (Kecamatan Kota Tambolaka dan Loura-Red). Dalam masa reses pertama dari tanggal 26-30/01/2026) ini, saya akan turun ke beberapa titik dari Kota Tambolaka sampai terakhir di Letekonda Selatan dan Letekonda pusat. Sesuai fungsi reses untuk menjaring aspirasi, saya sadari betul bahwa sebagai wakil rakyat, kita wajib turun mendengarkan aspirasi warga yang diwakili dan memperjuangkan agar aspirasi tersebut terwujud,” jelas Tobias Dowa Lelu, SE, anggota DPRD Kabupaten SBD sekaligus ketua DPW PKB Kabupaten Sumba Barat Daya (Senin,26/01/2026) di Desa Kalena Wanno seusai pelaksanaan reses tersebut.
Kegiatan reses yang diadakan dalam suasana dialog dan penuh keakraban layaknya keluarga, warga yang hadir bebas menyampaikan aspirasi, pendapat dan keluh kesah tentang berbagai hal yang dialami sebagai warga Desa Kalena Wanno Kecamatan Kota Tambolaka. Turut hadir ketua BPD Desa Kalena Wanno, Petrus L. Seingo dan beberapa perangkat desa. “Sebagai warga dan sekaligus Ketua BPD Desa Kalena Wanno saya apresiasi dan bersyukur dengan kegiatan reses ini. Saya berharap pokir (program pokok pikiran) DPRD SBD bisa dikolaborasi dengan program dan kegiatan yang ada di desa ini. Salah satu yang saya minta ditindaklanjuti adalah sumur bor di Rongobepa Dusun I. Telah dibangun sumur bor tetapi terkendala biaya sehingga belum bak penampung, tendon dan pipanisasinya,” ungkapnya.
Atas usulan tersebut, dengan cermat Tobias mencatat dan meminta rincian anggaran yang dibutuhkan sehingga bisa diproses lebih lanjut. Hematnya, hal itu patut diperhatikan secara khusus karena merupakan kebutuhan pokok warga Rongobepa dan sekitarnya. Ini positif untuk pemenuhan kebutuhan air bersih warga, tambahnya. Sedangkan usulan lain warga masyarakat adalah perbaikan jalan kampong Wannonuu sepanjang jurang lebih 400 meter yang memudahkan akses keluar masuk warga kampong baik menuju ke kantor desa maupun ke arah alun-alun sekitarnya. Terlebih untuk kebutuhan anak-anak sekolah karena pada musim hujan jalan becek sekali.
Hampir semua yang hadir sepakat agar jalan kampong sepanjang 400 meter dirabat. Bahkan untuk mendukung pengusulan jalan rapat tersebut, warga masyarakat siap ikut berswadaya dengan menyumbang batu kerikil setiap keluarga menyumbang lima karung kelikir untuk cor. Atas inisiatif dan antusias warga, Tobias sangat bersemangat dan memastikan agar terealisasi. “Terima kasih bapa mama adi kaka atas usulan dan kesediaan berpartisipasi secara materi atas usulan jalan rabat tersebut,” ungkapnya dalam bahasa ibu yang diselingi dengan bahasa Indonesia.
Masih banyak harapan lain yang juga disampaikan dalam forum reses tersebut. Antara lain bantuan rumah layak huni dan meteran listrik untuk beberapa warga janda dan kurang mampu. Atas usulan nama-nama penerima, Tobias mencatat secara langsung dan berjanji untuk memasukan dalam laporan akhir reses pertama ini. Juga ibu-ibu mengeluhkan tentang pencairan dana Tabungan BRI Simple (Simpanan Pelajar) bagi anak-anak SDK Kalena Wanno yang oleh pihak Bank BRI KCP Tambolaka. Salah satu warga menyampaikan bahwa pada hari Sabtu, 24 Januari 2026 kepala sekolah menyampaikan pengumuman kepada anak-anak. Bagi anak penerima bantuan simpanan pelajar yang sudah memiliki buku tabungan agar orang tua mengecek ke BRI dan mencairkan dana tersebut. Ternyata setelah dicek, dari total dana Rp. 900.000 yang telah dicairkan sebesar Rp. 450.000 pada bulan Oktober oleh orang tua, saldonya tinggal nol rupiah. Tercatat dalam buku tabungan, ada pengambilan dana sebesar Rp. 450.000 tanpa sepengetahuan orang tua. Pihak bank hanya menyampaikan bahwa dana tersebut telah dikembalikan ke kas Negara. Atas kejadian tersebut, Tobias meminta pihak BRI KCP Tambolaka dan pihak sekolah bertanggung jawab. Memberikan klarifikasi yang transparan kepada pihak orang tua dan komite sekolah. “itu adalah hak anak sekolah dan komitmen pemerintah, tidak boleh diselewengkan oleh siapapun, ungkapnya tegas kepada IDEMAnews.**EE
