Sebuah Catatan Refleksi Aster Bili Bora
Semiskin apa pun kita saat ini suatu waktu pasti jadi orang sukses kalau kita terus-menerus berjuang tanpa putus. Percaya diri menjadi pondasi paling kuat dalam bekerja untuk mencapai sukses.
Suatu kesalahan besar kalau kita hanya berpangku tangan, malas-malasan, dan kebanyakan berharap kapan ada pihak lain yang membantu. Berjuang sendiri dulu! Banting tulang kerja siang malam mandi keringat supaya cukup makan.
Bentuk diri sebagai orang yang dapat dipercaya. Pihak lain yang menilai apakah kita orang yang bekerja atau malas dan hanya berharap angin. Kalau kita sudah mati-matian bekerja tetapi masih juga gagal karena sesuatu hal, maka yang kita tidak mampu orang lain yang mampu dan Tuhan yang mampu. Dengan dasar kepercayaan pihak lain pada diri kita, maka pihak lain akan menggulirkan bantuan yang besarnya kadang melebihi harapan kita.
Tidak setiap orang miskin secara otomatis mendapatkan bantuan. Orang miskin yang bergaya pengemis, apa lagi tidak tahu diri miskin lalu buat reseh, kacau-kacauan, maling, brutal, dan malas minta ampun, maka jangan harap ada yang bantu kuah kosong.
Lain halnya orang miskin yang sudah berjuang mati-matian, tetapi masih miskin karena sesuatu sebab yang di luar kemampuan dan sulit dikendalikan, maka orang-orang yang seperti inilah yang akan mendapatkan bantuan sekalipun tidak meminta bantuan. Alam bertindak dan orang miskin diberi bantuan pada momentum yang tepat dan benar.
Jika suatu saat ada orang miskin tertimpa masalah yang paling besar, maka tidak elok rasanya kalau kita langsung menyalahkan dan menghujat pihak lain: tidak ada mata, tidak ada hati, dan tidak ada pikiran untuk memberikan bantuan. Kita teliti dulu apakah yang tertimpa masalah tergolong orang miskin positif ataukah orang miskin negatif?
Kalau ternyata tergolong orang miskin negatif sehingga tidak diberi bantuan apa pun sebelum terjerat sedih dan duka, maka mengapa kita heboh sekali dengan tidak ada yang peduli? Uang negara, apa lagi uang pribadi, didapat melalui perjuangan yang berdarah-darah, lalu mengapa terlalu enteng dibuang di tempat yang tidak tepat?
Semua bantuan mestinya membawa efek perubahan, setidaknya secara bertahap meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Bantuan yang sudah begitu banyak bergulir, tetapi tidak mengubah apa pun pada diri orang miskin negatif, maka alangkah baiknya stop saja karena sama halnya membuang mutiara di laut merah. Lebih baik fokus pada orang miskin positif yang tahu diri miskin tetapi dari awal terbukti berjuang keluar dari ruang gelap kemiskinan.
Tambolaka, 6 Februari 2026
