Bagian Kelima-Menata Kota Bangun Desa: Hotel Sumba Sejahtera dan Utama Sport Ber-IMB

Agus, Manajer Hotel Sumba Sejahtera Sumba Barat Daya

SBD, IDEMAnews-Setelah menurunkan beberapa edisi terkait bangunan atau usaha di atas sempadan sungai atau di atas sungai, IDEMA menemui pengelola/pemilik Hotel Sumba Sejahtera (HSS) di Radamata dan Utama Sport di Sapurata, Senin, 20 April 2026. “Hotel Sumba Sejahtera berdiri di atas lahan ber- IMB. Kami mempunyai dokumen perijinan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Barat Daya,” jelas Agus Manajer HSS.

Dijumpai di Hotel Sumba Sejahtera yang berada di tepi sungai Radamata yang berada di jalur utama jalan kota Tambolaka, Agus, manajer hotel menyambut dengan hangat. Semilir udara segar pagi menambah kehangatan bincang-bincang santai kami. Suasana kalm hotel bintang dua ini di jantung kota menjadi daya tarik tersendiri. Dua sungai besar yang mengapit hotel tersebut memberi sentuhan suasana alam. Air kali tampak jernih dan mengalir tenang menuju Kali Ledegiring dan bermuara di muara pantai Waikelo. Kali tersebut bisa disebut kali alami yang pada musim kemarau menjadi kering tetapi pada musim penghujan, kali tersebut menjadi jantung aliran alami yang menampung air dari berbagai penjuru seperti dari Weepangali, Kalena Wano, Kelurahan Weetobula bahkan sebagian dari arah Desa Lombu yang berada di ketinggian perbukitan.

Menurut masyarakat sekitar hotel HSS sepanjang jalur belakang hotel Sinar Tambolaka hingga lokasi HSS ada sebuah kali besar. Di salah satu sisi kali tersebut dulunya sawah tadah hujan. Tempat orang mengikat hewan pada musim kemarau. Sepanjang sungai dulunya adalah pohon-pohon dan banyak bamboo. Namun setelah perkembangan dibangun tempat usaha terutama sesudah pemekaran Kabupaten Sumba Barat Daya, lahan-lahan tersebut dijual oleh pemiliknya. HSS sebenarnya berdiri di atas sempadan sungai dan bahkan aliran sungai atau kali dari belakang Hotel Sinar Tambolaka dirubah arahnya. Sehingga saat sekarang tidak terlihat wujud sungainya. Apakah berada di belakang lokasi hotel atau berada di bawah bangunannya. Kali tersebut bertemu dengan kali yang membawa air dari arah Kelurahan Weetobula. Sedangkan di sisi Barat Hotel dibangun penahan berupa bronjol (tembok penahan) sehingga tampak bersih dan bangunan hotel aman karena setiap tahun pada musim hujan, terjadi banjir besar.

Tambah salah satu warga yang enggan namanya disebut, pada awal pembangunan hotel tersebut, sempat banjir bahkan sampai ke jalan raja. Hal ini disebabkan aliran sungai mampet tertutup material bangunan. Sekitar tahun awal 2000-an. Namun setelah pembangunan pondasi hotel, air kembali normal. Terkait hal tersebut, Agus sebagai manajer hotel menjelaskan bahwa terkait kejelasan itu, saya tidak  tahu. “Saya baru bergabung di HSS tujuh tahun lalu. Dan kebetulan saat ini, CEO atau pemilik HSS sedang berada di luar daerah. Jadi saya tidak terlalu mengetahui hal tersebut,” ungkapnya.

Terkait IMB dan ijin Amdal, Agus menjelaskan bahwa hotel berdiri di atas lahan ber-IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dan mempunyai dokumen perijinan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Barat Daya. “Kami pasti harus memenuhi persyaratan yang menjadi peraturan. Sebagai pengelola kami berkewajiban untuk menjaga lingkungan termasuk kebersihan, kerapihan dan limbah. Sehingga aktifitas hotel tidak berdampak buruk bagi lingkungan dan kondisi social masyarakat. HSS mempunyai lokasi khusus untuk pembuangan sampah di luar hotel. Pengolahan limbah hotel juga dijaga dengan baik. Kami tidak membuang sampah apalagi limbah ke sungai terdekat. Itu sudah menjadi standard an kami laksanakan dengan baik. Kami sangat terbuka dengan semua pihak termasuk Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup dan dinas terkait lainnya. HSS tidak sekedar mencari untung tetapi menjalankan berbagai upaya agar kehadiran HSS juga mempercantik kota. Memberi kontribusi dalam pembangunan SBD”.

Lobi Hotel Sumba Sejahtera Sumba Barat Daya

Belum lama ini, tambah Agus, dari Dinas Lingkungan Hidup SBD melaksanakan pemeriksaan dan pemantauan di HSS. Kondisi hotel diperiksa secara cermat termasuk pengolahan sampah dan limbah. Kami sangat terbuka dan hasilnya baik. Hotel bintang dua yang menyediakan dua ruang pertemuan dan fasilitas penunjang lain seperti penjemputan dan pengantaran tamu secara gratis, secara rutin melaksanakan pembersihan sampah dan mengeruk endapan tanah di sepanjang jalur sungai.

Sedangkan pemilikUtama Sport, Sugito, yang menjual berbagai keperluan alat olahraga kepada IDEMA menegaskan bahwa sejak awal membangun, sudah memperhitungkan jarak bangunan dengan sungai Sapurata. “Saya bangun usaha mulai dari kecil dan saya mengurus syarat mendirikan bangunan dan usaha. Setiap tahun membayar pajak. Ada IMB  dan yang terkait dari Dinas Lingkungan Hidup yang diakui kurang dipahami. “Saya bangun dan sama sekali tidak merubah arah sungai atau mempersempit. Saya membangun kurang lebih berjarak 3 meter dari sungai. Kalau lainnya, saya tidak tahu,” jelasnya.

Sejauh ini apakah pernah dari Dinas Lingkungan Hidup memeriksa? Selama ini tidak ada tetapi karena saya jua tidak selalu di toko, saya tidak tahu persis jika datang, tambahnya. Sedangkan bangunan toko yang jelas didirikan di atas kali Sapurata dari pengamatan IDEMA adalah bangunan toko Helbab dan bakso Malada dua. Berdiri di atas kali dan lebar drainase tidak sampai dua meter. Hal ini menyebabkan di area tersebut terjadi banjir besar dan mengikis tanah sekitarnya. Jika tidak dibongkar, ruas jalan Sapurata terganggu dan menimbulkan jalan bergelombang atau pecah karena penurunan tanah. Bahkan bisa jadi sebagian jalan ambruk karena pengikisan sempadan sungai yang parah. *EE-Bersambung….

Exit mobile version